RSS

Sandiwara

15 Apr

Sahabatku semua. Hari-hari ini berkelebatan dalam benak saya pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat kehidupan; Apakah hidup ini adalah sebuah sandiwara yang mana kita menjadi pemeran utamanya? Terus adakah memang apa yang kita lakukan di dunia ini adalah sudah termaktub dalam script yang harus kita perankan? Dan, haruskah kita memuaskan hasrat para penonton yang haus akan hiburan? Lalu siapakah sutradara dan prosedurnya? Dan apakah kita dibayar dalam pementasan drama ini?

Entahlah, sahabat. Aku bingung mencari jawabannya. Namun, aku seringkali melihat engkau bersama konco-koncomu mementaskan sandiwara-sandiwara di atas panggung kehidupan ini dengan lihainya, dan aku serta sahabat-sahabatku yang lain merasa terhibur karenanya. Aku sangat berterima kasih karena engkau benar-benar mementaskan sandiwara tersebut dengan sempurna. Perfecto!

Lihatlah bagaimana aku dan sahabat-sahabat karibku tertawa terbahak-terbahak ketika engkau memerankan seorang pemimpin yang bersikukuh untuk tidak mau lengser dari jabatanmu meskipun rakyatmu, rekan-rekanmu, atasanmu bahkan Tuhanmu menghendakinya. Berjuta demonstrasi digelar, namun engkau tetap bergeming dengan pendirianmu. Engkau berkilah bahwa engkau menjunjung tinggi undang-undang dan amanat yang ‘rakyat’ mandatkan kepadamu. Bahkan betapa hebatnya peranmu ketika harus menumpahdarahkan ribuan rakyat tak berdosa, menginjak-injak keadilan dengan kakimu yang ringkih, bersilat lidah, memelintir kejujuran, menjual harga diri dan mengaburkan kebenaran. Sungguh hebat, sampai kami tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.

Haha, benar sahabat, aku tahu bahwa itu hanyalah sebuah pementasan sandiwara. Silat lidahmu di teve-teve, koran-koran dan radio-radio adalah sebagian adegan yang harus engkau pentaskan dalam sandiwara ini. Begitu pula percekcokanmu dengan bapak menteri dan raja dunia. Aku juga tahu bahwa yang kamu perjuangkan itu bukanlah undang-undang dan amanat rakyat. Kau hanya ‘sedikit’ haus uang dan kekuasaan, bukan? Dan sedikit pemanis wanita dan sex kan? Haha, tanpa berkilah pun aku sudah tahu, sahabat.

Sandiwaramu yang ini tidak kalah lucunya. Masih ingatkah ketika kamu berperan sebagai caleg DPR dan berkoar-koar tentang keadilan dan kesejahteraan? Necisnya baju koko hitam putihmu ketika kau berpidato di khalayak ramai, ‘Wahai saudara-saudaraku. Berdirinya saya di sini adalah untuk menegakkan keadilan dan menebarkan kesejahteraan di negara kita tercinta. Mari kita bekerja untuk Indonesia.’ Dan betapa gagahnya dirimu ketika melihat hadirin bertepuk tangan dalam lautan baju yang didominasi warna hitam putih.

Awalnya, kami tidak menyangka bahwa kamu sedang memerankan sebuah sandiwara, tapi ketika kami tahu bahwa kamu suka menonton kaum hawa bertelanjang bulat dan beradegan panas dalam pc tabletmu ketika kamu sedang mengikuti sidang yang membahas permasalahan ummat, baru kami tersadar bahwa ternyata kamu memang sedang bersandiwara. Haha, benar-benar sandiwara yang sempurna, sabahatku. Sekali lagi, kami tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya. Dibayar berapa kamu untuk memerankan sandiwara hebat seperti itu?

Aku juga dibuat terhenyak ketika melihat pementasanmu yang sempurna di sandiwara lain dan berperan sebagai corong peradaban Barat yang terkenal angkuh dan semena-mena itu. Lihatlah  betapa kerennya jasmu ketika engkau berbicara tentang Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Berekspresi. ‘Itu adalah HAM dan Kebebasan Bertindak,’ tukasmu ketika membela orang yang suka telanjang di layar teve. Atau juga melihat ekspresimu yang berapi-api ketika membela seorang penjual bunga yang ngaku-ngaku menjadi nabi. Haha, lucu engkau. Engkau sudah seperti tuhan aja, kawan, bisa menentukan siapa nabi siapa manusia biasa.

Namun, sandiwaramu sudah sangat keterlaluan ketika engkau menyamakan Tuhan kami dengan manusia, matahari, monyet, ular, dan sapi. Kami tidak kuat menangis dibuatnya. Lha, tega-teganya kamu bilang bahwa kita, ummat manusia, menyembah Tuhan yang sama, dan yang membedakannya hanyalah agama. Agama itu cuma baju, papar engkau. Ketika aku tanya apa yang sedang kamu lakukan, lantas kamu menggumamkan kata yang terasa asing dalam pikiran kami ‘Pluralisme’. Padahal engkau tahu sendirikan sahabat-sahabatmu yang Hindu itu menyembah monyet, ular dan sapi, yang Kristen menyembah Yesus dan yang Shinto menyembah matahari?

Apa? Kamu bilang sandiwara? Iya, tapi sandiwara jangan keterlaluan seperti itu dong. Bisa kualat kamu! Bagaimana kalau Allah tersinggung karena disama ratakan dengan hewan-hewan peliharaan tersebut dan marah kepadamu. Bisa berabe kamu. Emang kamu dibayar berapa sih sama orang-orang bule itu sampai harus mementaskan sandiwara setragis itu?

14 April 2011

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 15, 2011 in Catatan Harian

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: