RSS

#FridayNightNotes (2)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Selamat pagi sahabat. Dalam #FridayNightNote edisi kali ini izinkan saya untuk masih memberikan kontribusi ide dan pemikiran terhadap praksis-praksis pendidikan di Indonesia yang masih dirundung berbagai masalah. Memang, permasalahan pendidikan tidak akan terselesaikan dan akan tetap ada, tapi setidaknya hal itu tidak menempatkan posisi pendidikan kita pada jurang hina dina yang membonsaikan kreativitas para peserta didik. Hendaknya, pendidikan tidak menjadikan manusia Indonesia kerdil dan tercerabut dari fitrahnya sebagai hamba Tuhan.

Berbagai fenomena aneh terjadi dalam masyarakat kita baru-baru ini. Ada pemimpin yang tak mau lengser dari jabatannya meskipun rakyat telah menangis darah memintanya menghentikan kepemimpinanya yang korup dan menindas. Ada juga seorang leader yang tuli dan buta serta keras kepala untuk tetap menjabat sebagai pimpinan sebuah organisasi bola, padahal masyarakat memintanya untuk berhenti menjalankan organisasi tersebut. Ada juga seseorang dari sebuah institusi dakwah yang lupa akan janjinya untuk menyejahterakan rakyat dan malah bergelimang hawa nafsu ketika berada pada forum yang membahas kemaslahatan rakyat. Untungnya dia masih memiliki rasa malu untuk tetap melanjutkan amanah yang diembannya dari rakyat. Ada juga orang yang terperdaya oleh rayuan dunia dan berkoar-koar menjadi agennya untuk mengaburkan identitas-identitas kita yang telah kukuh dan begitu jelas.

Akhirnya, saya haturkan banyak terima kasih atas kunjungan anda ke weblog yang sederhana ini.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jum’at, 15 April 2011

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 15, 2011 in Prolog

 

Mendesain Tujuan Pendidikan

Syahruzzaky Romadloni
Universitas Siliwangi, Indonesia

Konon, sebelum penciptaannya manusia pernah bersaksi kepada Allah subhanahu wa ta’ala bahwa Dia adalah Tuhan mereka (Al-A’raf:172). Janji ini menjadi fitrah manusia, bahwasanya ketika jiwa mereka ditiupkan dalam rahim dan lahir ke dunia ini, mereka dalam keadaan patuh dan tunduk kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Hal ini dibuktikan dengan ketaataan mereka terhadap aturan kosmos Allah SWT. Baru setelah mereka berintekrasi dengan ayah bunda serta lingkungan, mereka tersilap dari kesaksian yang mereka berikan dahulu. Akhirnya melencenglah mereka dari fitrah penciptaan. Begitu kata Rasullullah SAW dalam haditsnya.

Sifat asali manusia adalah bersaksi dan beriman akan keesaan Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu dalam Islam tidak ada istilah pembaptisan karena mereka dilahirkan dengan fitrah keimanannya. Dalam perpektif kita, manusia dikatakan meraih kemerdekaannya yang hakiki apabila dapat kembali kepada fitrah mereka: bersaksi dan beriman kepada Allah Sang Pencipta. Kemerdekaan dalam perspektif Islam bukan bebas sebebas-bebasnya dari pelbagai aturan dan mengikuti hawa nafsu manusia, karena hal itu cenderung mengarah ke perbuatan destruktif. Fakta dan sejarah telah banyak mengajarkan kita tentang itu.

Konsekuensi dari kesaksian dan keimanan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah taat dan tunduk terhadap aturan yang digariskan Allah subhanahu wa ta’ala bagi kesejahteraan manusia di muka bumi. Hal ini dapat dengan jelas dilihat dari aturan-aturan yang terdapat dalam al-Quran ‘kecil’ dan al-quran ‘besar’. Al-Quran ‘kecil’ adalah ayat-ayat Allah yang termaktub dalam mushaf yang sering kita baca sehari-hari sedangkan al-Quran ‘besar’ adalah ayat-ayat Allah yang terkandung dalam alam semesta beserta isinya. Selain itu, panduan praktis dari Rasulullah SAW melalui haditsnya juga dapat dijadikan pegangan dalam menjalani kehidupan.

Bagaimana dengan panduan yang berasal dari akal manusia, padahal Allah telah ‘bersusah payah’ memberikan anugerah tersebut bagi manusia dan dengannya menjadikan mereka spesial dari makhluk hidup yang lainnya? Tentunya kita akan dengan bijak menjawab bahwa produk akal manusia dapat digunakan untuk membuat peraturan di muka bumi selagi digunakan dengan perspektif pandangan hidup Islami yang sesuai dengan al-Quran dan sunnah. Jangan khawatir untuk tidak dapat mengeksplorasi ‘kebrilianan’ akal manusia karena toh kedua sumber utama itu hanya memberikan garis besar bagaimana seharusnya manusia hidup di dunia ini. Selanjutnya, akal manusia berperan besar dalam menafsirkan implementasi ayat-ayat tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dan itu lebih selamat, karena akal kita dibimbing oleh wahyu. Jadi tidak perlu ribut-ribut dengan sekulerisasi, menyimpan al-Quran dan as-sunnah dalam kehidupan pribadi setiap muslim, karena itu menunjukkan arogansi kita pada Sang Pencipta. Kok tidak mau diatur oleh Sang Pencipta, dasar tak tahu untung!

Menuju kemerdekaan yang hakiki itulah tujuan pendidikan harus dirumuskan mau kemana. Hendaknya, pendidikan yang kita berikan kepada anak didik kita membimbing mereka pada fitrah dan memperingatkan mereka apabila sewaktu-waktu menyimpang dari kesaksian yang telah diberikan ketika ruh ditiupkan. Pendidikan harus membuat manusia semakin memperbaharui keimanan dan komitemen mereka akan tunduk dan patuh terhadap aturan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Semakin mereka tahu, semakin mereka menyadari kekurangan mereka dan betapa luasnya ilmu Allah, bukan sebaliknya, semakin mereka congkak dan tidak mau patuh terhadap aturan Tuhan.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menitik beratkan pada keberhasilan setiap individu untuk menjadi manusia sempurna (insan kamil)  dan beradab. Pendidikan yang mencetak insan kamil merujuk kepada pendidikan holistik, dalam artian proses pendidikan terjadi di seluruh aspek manusia baik itu kognitif, psikomotorik, afektif, spiritual dan lain sebagainya. Menyeluruh dan tidak setengah-setengah. Sedangkan pendidikan yang mencetak manusia beradab memiliki semangat untuk membimbing manusia pada fitrahnya yang hakiki, yaitu kesaksian terhadap keesaan Allah Subhanahu wa ta’ala. Selain itu insan beradab juga senantiasa melihat sesuatu dalam perspektif keadilan menyimpan sesuatu pada tempatnya yang proporsional.

Lalu bagaimana sistem pendidikan holistik itu bisa diterapkan? Tentunya praxis pendidikan nasional yang kita temui di negara kita tidak dapat dijadikan sebagai model pendidikan holistik karena sangat menitikberatkan pada kemampuan kognitif siswa. Pendidikan holistik tidak dapat diterapkan apabila implementasinya telah direduksi menjadi sekumpulan pelajaran yang dibonsai dalam sekat kelas, sekolah dan waktu meskipun dalam tataran praktis pendidikan tersebut dapat disimpan di tempat-tempat tersebut asal tidak ada proses pembonsaian dan tetap memperhatikan hal-hal esensial dari pendidikan holistik.

Maka seharusnya pendidikan holistik harus bertumpu pada ciri totalitasnya dimana seluruh elemen yang ada dalam lingkungan peserta didik diarahkan pada proses penciptaan lingkungan pendidikan (albiah atarbawiyah). Apa yang didengar, dilihat dan dirasakan oleh peserta didik haruslah bagian dari proses pendidikan yang membing mereka secara konstan ke arah yang lebih baik. Pihak pengelola pendidikan harus bekerja sekuat mungkin secara kreatif untuk mentransformasikan hal-hal yang secara sekilas tidak ada hubungan dengan proses pendidikan menjadi salah satu komponen yang ikut serta mendidik para peserta didik.

Untuk lebih jelasnya, saya berikan contoh. Sekilas kegiatan antri di Kantor Tabungan Pelajar adalah perihal sepele dan tidak ada kaitannya dengan proses pendidikan, tetapi apabila pihak pengelola pendidikan jeli dalam memandang kegiatan remeh ini ternyata di dalamnya terdapat proses pendidikan akhlak yang sangat banyak. Dengan membudayakan sikap antri, berarti sekolah secara tidak langsung mendidik peserta didik untuk bersikap sabar dalam meraih cita-cita mereka. Selain itu, budaya tertib dalam beraktivitas akan tumbuh di benak para peserta didik. Dan yang lebih penting adalah penanaman sikap jujur dalam kondisi sulit sekalipun. Kita tahu bahwa dalam antri seringkali kita ingin cepat-cepat sampai pada ujung antrian, meskipun hal itu harus dilakukan dengan hal-hal yang biadab. Nah, jelas bahwa dari hal sepele seperti kegiatan antri, kita bisa menyisipkan aspek-aspek pendidikan yang memiliki peran signifikan dalam perkembangan peserta didik. Dan kita memiliki banyak contoh untuk merealisasikan hal tersebut.

Terwujudnya cita-cita pendidikan holistik tidak akan tercapai apabila pola pikir bahwa pendidikan identik dengan kursi, bangku dan pengajaran searah guru-murid dihapus dari benak para stakeholders pendidikan. Pendidikan tidak cukup dengan itu saja. Pendidikan seyogyanya didefinisikan secara luas dimana proses pendidikan dengan totalitasnya digiring ke arah usaha mendidik para peserta didik. Maka, hal ini berimbas pada penggunaan secara paksa terma-terma ‘non-pendidikan’ menjadi identik dengan proses pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah penugasan, dimana ketika para peserta didik mendapatkan tugas, lalu mengerjakannya dan menyelesaikannya adalah juga bagian proses pendidikan. Pendidikan juga adalah proses pembiasaan, pemaksaan, pemberian hukuman, dan pemberian pujian bagi setia peserta didik. Terma-terma ini digunakan tidak lain adalah untuk memberikan defenisi seluas-luasnya bagi proses pendidikan agar pendidikan holistik dapat terwujud.

Pada awalnya, pendidikan harus memfokuskan diri pada pembentukan individu-individu supaya menjadi insan kamil dan beradab seperti yang telah dibahas di muka tulisan. Lalu, ketika individu-indivdu peserta didik telah memahami dan menghayati kemanusiaan mereka, hendaknya mereka digiring pada orientasi pendidikan kemasyarakatan. Hal ini penting mengingat Rasulullah SAW pernah berujar bahwa manusia yang terbaik di antara kita adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya. Outcome pendidikan tidak boleh menjadi menara gading yang melangit tercerabut dari akarnya. Insya Allah model pendidikan seperti ini akan mashlahat bagi kemajuang ummat. Amien.

*Terima kasih kepada Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Kyai-kyai Gontor yang telah mengenalkan penulis sistem pendidikan seperti ini.

15 April 2011

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 15, 2011 in Opini

 

Proses Pendidikan ala Pondok Pesantren

Syahruzzaky Romadloni
Universitas Siliwangi, Tasikmalaya

Apa yang terngiang dalam benak anda ketika mendengar kata ‘pondok pesantren’? Tentunya berbagai macam tanggapan akan lahir dalam benak anda tergantung dari seberapa besar perkenalan anda dengan dunia pondok pesantren. Dari sekian pendapat, ada yang melihat dengan kaca mata positif, dan tidak sedikit pula yang berkonotasi negatif. Ya, itu tadi tergantung dari sejauh mana anda mengenal dunia pendidikan khas Islam ini. Namun apakah sebenarnya pondok pesantren itu? Dan apa yang terkandung di dalamnya?

Pondok pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan yang memiliki ciri-ciri khas yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lainnya di dunia. Salah satu kekhasan yang dimilikinya adalah melekatnya peran para kyai sebagai tokoh sentral di dalamnya. Mereka mendapatkan keistimewaan lebih karena biasanya kyai adalah pendiri atau keturunan dari pendiri pondok pesantren yang dengan ikhlas tanpa pamrih membangun pondok pesantren untuk kemajuan ummat. Jarang dari mereka yang memiliki ambisi duniawi ketika membangun fondasi pondok pesantren.

Sentral yang kedua yang tidak dapat dipisahkan dari pondok pesantren adalah masjid. Dalam hal ini masjid berfungsi sebagai pusat kegiatan santri, para penghuni pondok pesantren. Masjid di pesantren tidak berfungsi sekuler, yakni untuk amalan-amalan ukhrowi saja, tapi juga sebagai pusat ekonomi, pembelajaran, dan pemberdayaan. Maka biasanya bangunan yang pertama kali ada dalam sebuah pondok pesantren haruslah masjid, meskipun di kemudian hari tradisi ini mulai berubah.

Pondok pesantren lekat sekali dengan pengkajian ilmu-ilmu ketuhanan (divinity). Para santri bertafaqquh fiddin agar mereka dapat menjadi penyeru bagi ummat-ummatnya. Selain itu, ilmu-ilmu kauniyah pun tidak luput dari kajian mereka. Mereka belajar tauhid, fiqh, al-quran, assunah, sekaligus astronomi, fisika, biologi, kimia, ekonomi, sejarah dan disipilin ilmu lainnya. Dalam dunia pondok pesantren tidak dikenal dikotomi ilmu. Yang ada adalah kesadaran bahwa semua ilmu sumbernya satu: al-‘Alim, Yang Maha Mengetahui. Tentunya ilmu ketuhanan memiliki porsi lebih, hal ini karena berkaitan dengan jenjang prioritas dalam pengklasifikasian ilmu.

Satu hal kekhasan yang dimiliki oleh pesantren dan sangat sulit ditiru oleh lembaga pendidikan lainnya adalah kuatnya penanaman akhlak-akhlak terpuji. Label ‘santri’ pun secara dzahir telah identik dengan keshalehan, baik itu secara individu maupun sosial. Hal ini wajar, karena pembiasaan aplikasi akhlak terpuji telah mendarah daging dalam dunia pendidikan pondok pesantren. Kyai sebagai sentral figur di dalamnya memberikan uswah dan qudwah hasanah dalam pendidikan akhlak. Karena penanaman akhlak lebih mengena dengan perbuatan daripada penjejalan materi di dalam kelas, maka pendidikan akhlak di pondok pesantren sangat mengena di benak para santrinya. Itu pulalah ternyata yang menginspirasi Kemendiknas untuk memasukan unsur-unsur pendidikan karakter di sekolah-sekolah, yang diakui terinspirasi dari pendidikan akhlak pondok pesantren.

Karena kekhasannya ini pulalah yang membuat pendidikan pondok pesantren memiliki keunggulan dari macam pendidikan konvensional lainnya. Pendidikan pondok pesantren unggul karena corak pendidikannya yang integratif, tidak parsial. Pola pendidikan holisitik yang diterapkan di lembaga ini telah berjalan lebih dari ratusan tahun dan berhasil mencetak kader-kader bangsa yang ikut andil dalam melahirkan negara ini.

Pendidikan integral pondok pesantren meliputi ranah kurikulum dan aktivitas. Para santri tidak hanya bertafaquh dalam ilmu-ilmu ketuhanan, tapi mereka mengkaji ilmu-ilmu yang memungkinkan mereka bereksplorasi di dunia seperti ilmu alam dan ilmu sosial. Bedanya, pendekatan pengkajian ilmu-ilmu kauniyah tersebut tidak melalui pendekatan sekuleristik di mana ilmu dikeluarkan dari fitrahnya, tapi mereka melakukannya sebagai upaya mengenal bukti-bukti keagungan Allah. Semakin mereka mengetahui rahasia di balik alam semesta, mereka semakin percaya bahwa Allah adalah Sang Maha Agung. Pendekatan ini memberi kekhasan pula akan keshalehan santri dalam semua aspek termasuk dalam ranah intelektual.

Aspek keterpaduan pondok pesantren juga terlihat dalam totalitas kegiatan yang ada di dalamnya. Kegiatan-kegiatan para santri tidak hanya bersangkut paut dengan dunia ragawi tapi juga dunia rohani. Mereka mengasah raga dengan bermain sepak bola dan kalbu dengan shalat lima waktu berjamaah. Mereka melatih kepemimpinan dengan berbagai macam kegiatan keorganisasian, dan dalam waktu yang bersamaan mengerjakan puasa Sunnah Senin-Kamis. Begitu seterusnya. Pendidikan pesantren tidak akan pernah parsial tapi senantiasa holistik meliputi pendidikan jasmani, rohani, indrawi, intelektual, emosional dan lain sebagainya. Hal ini disebabkan karena pendidikan pondok pesantren selalu terpadu dan merujuk konsep pendidikan hakiki.

Maka wajar karena pendidikan yang dilaksanakan di pondok pesantren adalah pendidikan holistik, maka manusia yang dihasilkan pun adalah manusia sempurna (insan kamil). Kalau ada diantara mereka- setelah mengenyam pendidikan pesantren- menjadi ilmuwan, maka mereka akan menjadi ilmuwan yang santri – dengan atribut kesahlehannya. Pun, ketika mereka ditakdirkan untuk menjadi pejabat negara, maka serta mereka akan menjadi pejabat yang amanah, adil dan bersedia banting tulang untuk menyejahterakan rakyat. Begitu dan seterusnya.

15 April 2011

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 15, 2011 in Opini

 

Sandiwara

Sahabatku semua. Hari-hari ini berkelebatan dalam benak saya pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat kehidupan; Apakah hidup ini adalah sebuah sandiwara yang mana kita menjadi pemeran utamanya? Terus adakah memang apa yang kita lakukan di dunia ini adalah sudah termaktub dalam script yang harus kita perankan? Dan, haruskah kita memuaskan hasrat para penonton yang haus akan hiburan? Lalu siapakah sutradara dan prosedurnya? Dan apakah kita dibayar dalam pementasan drama ini?

Entahlah, sahabat. Aku bingung mencari jawabannya. Namun, aku seringkali melihat engkau bersama konco-koncomu mementaskan sandiwara-sandiwara di atas panggung kehidupan ini dengan lihainya, dan aku serta sahabat-sahabatku yang lain merasa terhibur karenanya. Aku sangat berterima kasih karena engkau benar-benar mementaskan sandiwara tersebut dengan sempurna. Perfecto!

Lihatlah bagaimana aku dan sahabat-sahabat karibku tertawa terbahak-terbahak ketika engkau memerankan seorang pemimpin yang bersikukuh untuk tidak mau lengser dari jabatanmu meskipun rakyatmu, rekan-rekanmu, atasanmu bahkan Tuhanmu menghendakinya. Berjuta demonstrasi digelar, namun engkau tetap bergeming dengan pendirianmu. Engkau berkilah bahwa engkau menjunjung tinggi undang-undang dan amanat yang ‘rakyat’ mandatkan kepadamu. Bahkan betapa hebatnya peranmu ketika harus menumpahdarahkan ribuan rakyat tak berdosa, menginjak-injak keadilan dengan kakimu yang ringkih, bersilat lidah, memelintir kejujuran, menjual harga diri dan mengaburkan kebenaran. Sungguh hebat, sampai kami tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.

Haha, benar sahabat, aku tahu bahwa itu hanyalah sebuah pementasan sandiwara. Silat lidahmu di teve-teve, koran-koran dan radio-radio adalah sebagian adegan yang harus engkau pentaskan dalam sandiwara ini. Begitu pula percekcokanmu dengan bapak menteri dan raja dunia. Aku juga tahu bahwa yang kamu perjuangkan itu bukanlah undang-undang dan amanat rakyat. Kau hanya ‘sedikit’ haus uang dan kekuasaan, bukan? Dan sedikit pemanis wanita dan sex kan? Haha, tanpa berkilah pun aku sudah tahu, sahabat.

Sandiwaramu yang ini tidak kalah lucunya. Masih ingatkah ketika kamu berperan sebagai caleg DPR dan berkoar-koar tentang keadilan dan kesejahteraan? Necisnya baju koko hitam putihmu ketika kau berpidato di khalayak ramai, ‘Wahai saudara-saudaraku. Berdirinya saya di sini adalah untuk menegakkan keadilan dan menebarkan kesejahteraan di negara kita tercinta. Mari kita bekerja untuk Indonesia.’ Dan betapa gagahnya dirimu ketika melihat hadirin bertepuk tangan dalam lautan baju yang didominasi warna hitam putih.

Awalnya, kami tidak menyangka bahwa kamu sedang memerankan sebuah sandiwara, tapi ketika kami tahu bahwa kamu suka menonton kaum hawa bertelanjang bulat dan beradegan panas dalam pc tabletmu ketika kamu sedang mengikuti sidang yang membahas permasalahan ummat, baru kami tersadar bahwa ternyata kamu memang sedang bersandiwara. Haha, benar-benar sandiwara yang sempurna, sabahatku. Sekali lagi, kami tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya. Dibayar berapa kamu untuk memerankan sandiwara hebat seperti itu?

Aku juga dibuat terhenyak ketika melihat pementasanmu yang sempurna di sandiwara lain dan berperan sebagai corong peradaban Barat yang terkenal angkuh dan semena-mena itu. Lihatlah  betapa kerennya jasmu ketika engkau berbicara tentang Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Berekspresi. ‘Itu adalah HAM dan Kebebasan Bertindak,’ tukasmu ketika membela orang yang suka telanjang di layar teve. Atau juga melihat ekspresimu yang berapi-api ketika membela seorang penjual bunga yang ngaku-ngaku menjadi nabi. Haha, lucu engkau. Engkau sudah seperti tuhan aja, kawan, bisa menentukan siapa nabi siapa manusia biasa.

Namun, sandiwaramu sudah sangat keterlaluan ketika engkau menyamakan Tuhan kami dengan manusia, matahari, monyet, ular, dan sapi. Kami tidak kuat menangis dibuatnya. Lha, tega-teganya kamu bilang bahwa kita, ummat manusia, menyembah Tuhan yang sama, dan yang membedakannya hanyalah agama. Agama itu cuma baju, papar engkau. Ketika aku tanya apa yang sedang kamu lakukan, lantas kamu menggumamkan kata yang terasa asing dalam pikiran kami ‘Pluralisme’. Padahal engkau tahu sendirikan sahabat-sahabatmu yang Hindu itu menyembah monyet, ular dan sapi, yang Kristen menyembah Yesus dan yang Shinto menyembah matahari?

Apa? Kamu bilang sandiwara? Iya, tapi sandiwara jangan keterlaluan seperti itu dong. Bisa kualat kamu! Bagaimana kalau Allah tersinggung karena disama ratakan dengan hewan-hewan peliharaan tersebut dan marah kepadamu. Bisa berabe kamu. Emang kamu dibayar berapa sih sama orang-orang bule itu sampai harus mementaskan sandiwara setragis itu?

14 April 2011

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 15, 2011 in Catatan Harian

 

#FridayNightNotes

Oleh: Syahruzzaky Romadloni
Alumni Gontor, 2006

Bagi kami, santri Pondok Modern Gontor, Jum’at adalah hari spesial. Di hari ini bertumpuklah semua rasa gembira di hati. Bagimana tidak, aktivitas padat belajar di kelas dan disiplin ketat di luar kelas selama 6 hari memang cukup membuat suasana hati penat. Apalagi seringkali hal tersebut dibumbui ketegasan para pengurus dan ustadz dalam menegakkan disiplin yang tak jarang membuat hati ini dongkol. Dan hal ini ini tidak akan ditemukan di hari Jum’at, hari pembebasan dari hal-hal yang cukup melelahkan tersebut.

Tentunya hari Jum’at bukanlah hari untuk berleha-leha dan istirahat total dari semua aktivitas. Kami memahami bahwa definisi istirahat menurut Pondok Modern Darussalam Gontor adalah tabaadulil a’mal, pergantian pekerjaan. Iya, kami tetap beraktivitas di hari Jum’at. Bedanya, kami dipersilahkan untuk memilih aktivitas apa yang disukai sesuai dengan minat dan bakat yang kami punya.

Hari Jum’at akan dimulai dengan suguhan menarik dari staf center for language improvement, Bagian Penggerak Bahasa. Biasanya, kakak-kakak yang pandai bercas-cis-cus ria dalam bahasa Arab dan Inggris ini menyetelkan film-film menarik berbahasa Arab dan Inggris sambil menyerap vocabulary dan expressions yang ada dalam film tersebut. Atau mereka mengadakan perlombaan-perlombaan kecil seperti komentator bola dalam bahasa Arab dan Inggris, membaca berita, mini-drama, latihan percakapan, sampai cerdas cermat. Atau juga mereka mengundang para ahli bahasa lulusan Al-Azhar, Manchester dan perguruan tinggi lainnya di luar negeri untuk memberikan language encouragement. Beneran gak boring deh! (haha, promosi, mentang-mentang dulu bagian penggerak bahasa🙂

nonton film berbahasa Arab dan Inggris

Setelah puas mendapat suguhan dari Bagian Penggerak Bahasa saat nya time to show our creativity on singing songs. Yah, akan ada pertunjukan nyanyi-nyanyi antar asrama sebelum lari pagi dimulai. Bukan nyanyi-nyanyi lebay tentang jatuh cinta atau putus cinta, tapi lagu-lagu pematuk gelora, semangat dan kebanggaan terhadap rayon (asrama) masing-masing. Ketika itu kami berperang dengan rival kami dari asrama lain. Seberapa banyak dan rame lagu adalah penentu kemenangan perang tersebut. Nih saya kasih bocoran petikan sya’ir lagu yang yang merupakan plesetan dari salah satu judul dalam pelajaran mutholaah dengan memakai nada rap ini. Lagu ini biasanya oleh para muharrik (penggerak) asrama digunakan untuk memantik semangat teman-temannya:

“Kana muhammadun na’iman fi firosyihi, wa sa’atu ‘asyrun. Bakda kasfil hudhur’

Haha, ngaku deh kamu juga pernah menyanyikan lagu ini kan? :-p

Nah, puas nyanyi-nyayi, kini saatnya lari pagi. Lari pagi hari Jum’at di pondok kami itu plus-plus loh. Artinya banyak sekali embel-embelnya. Pertama, ya tadi jadi ajang ‘perlombaan’ nyanyi antar rayon yang dipimpin oleh muharrik maskan. Kedua, jalan-jalan lihat pemandangan pedesaan daerah Gontor yang asri nan indah di pagi hari. Ketiga, dan ini yang paling menyenangkan dan membuat hati berbunga-bunga, adalah dapat melihat beberapa perempuan ponorogo yang menunggangi sepeda mereka pergi ke sekolah masing-masing. Biasanya kami langsung menggoda mereka dengan nyanyian-nyanyian lebay. Haha, bagi kami itu adalah hiburan yang cukup menyenangkan, mengingat satu-satunya perempuan yang dapat kami lihat di dalam pondok adalah mboke’ nya dapur umum, haha.

Lari Pagi ++ di PMDG

Baiklah, setelah lari pagi waktunya membersihkan pondok dan kamar masing-masing. Bagi saya sendiri, ketika anak baru ada pengalaman yang mengesankan. Di saat teman-teman yang lain disuruh para mudabbir rayon untuk membersihkan asrama, saya dan beberapa teman mempunyai obyek bersih-bersih lain, yaitu Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat. Yah ketika itu saya menjadi asisten BKSM. Enaknya bersih-bersih di sana, kami tidak perlu disuruh oleh para pengurus rayon (yang terkadang dibentak-bentak juga) dan di akhir pekerjaan, biasanya ada sedikit cemilan yang diberikan oleh mboke’ BKSM. Alhamdulillah. Ketika anak lama pun, bersih-bersih hari Jum’at saya tidak di rayon karena menjadi asisten Perpustakaan Pondok Modern Darussalam Gontor.

BKSM. Sempat menjadi asisten di sana pas anak baru

Nah, setelah kegiatan bersih-bersih, pondok akan semakin rame. Biasanya hari Jum’at dijadikan ajang oleh beberapa organisasi ekskul untuk mengadakan acara spesial. Di depan Gedung Tunis, Itqan, organisasi majalah santri, mengadakan bazzar buku dan majalah Islam. Di depan cafetaria, Dams’ Family dan Armada berkolaborasi mengadakan konser musik dan teater. Bagian Penerangan gak mau kalah. Mereka mengadakan perlombaan membaca berita. Aklam dan Limit mempertunjukan kreativitas mereka malalui pameran kaligrafi dan lukisan mereka. Bagian Kebersihan pun gak kalah serunya. Mereka melakukan bazzar murah meriah baju bekas hasil raziaan mereka. Dan seterusnya.

Oh, ya bagi yang punya doku banyak (saya tidak termasuk loh) hari Jum’at bisa dijadikan ajang shopping di Ponorogo. Para santri memang diperbolehkan untuk pergi ke Ponorogo berbelanja keperluan-keperluan yang tidak ditemukan di Koperasi Pelajar. Haha, saya sendiri tidak punya pengalaman banyak berbelanja di Ponorogo karena jarang mempunyai uang lebih.

Lalu apa serunya hari Jum’at bagi saya pribadi?

Sebelumnya saya akan membawa anda pada main interest saya di PMDG.

Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di PMDG hati saya langsung tertambat ke tempat yang namanya perpustakaan. Yah, setelah keliling ke sana kemari dan nanya sana-sini akhirnya saya dapat menemukan ruang perpustakaan. Ketika itu tempatnya masih di Gedung Saudi 6 Lt. II. Sayangnya, ketika itu perpustakaannya lagi tutup, karena memang biasanya dibuka setelah proses KBM berjalan.

Lalu di asrama ada pengumuman perekrutan anggota Itqan, majalah santri. Karena minat saya adalah baca-tulis, saya langsung mendaftar ke ekskul ini. Nah, di sini lah saya menghabiskan sebagian besar waktu saya selama belajar di Gontor. Gedung Tunis Lt. II Kamar 3.

Gedung Tunis. Kantor Itqan di Lt. 2-nya

Ternyata, setelah masuk Itqan saya tidak bisa langsung menulis di majalah. Itqan mempunyai sistem kaderisasi berjenjang yang bertujuan untuk mematangkan tulisan-tulisan sebelum mereka terpilih menjadi staf redaksi majalah. Biasanya setiap jenjang kaderisasi memiliki mading masing-masing yang disimpan di galeri depan Gedung Tunis dan dibaca oleh hampir seluruh santri karena tempatnya persis di depan dengan Masjid Jami’.

Kembali ke hari Jum’at.

Hari Jum’at adalah hari dimana tulisan-tulisan kami diterbitkan di galeri dan dibaca oleh ribuan santri PMDG. Tentunya ini memerlukan proses sebelum akhirnya dipajang di galeri:

Malam Jum’atnya, selepas absen malam, kami anggota Itqan berkumpul di markas untuk pembagian tugas. Ada yang bertugas sebagai lay-outer plus designer. Ada juga yang mengetik tulisan-tulisan terkumpul. Ada editor yang memeriksa kelayakan tulisan-tulisan yang masuk. Nah, karena begadang tentunya capek ada juga seksi konsumtornya yang bertugas menyediakan makrunah (mie instant), qohwah (kopi) dan cemilan-cemilan lainnya. Kami pun mulai mengerjakan tugas masing-masing.

Kalaulah semua anggota lengkap pada datang dan bekerja sesuai job nya masing-masing biasanya mading sudah dapat diterbitkan sekitar pukul 1 dini hari. Dan kami bisa langsung pulang ke asrama untuk istirahat. Namun, bila teman-teman lain lagi pada sibuk, biasanya baru dini hari dapat dipajang, tentunya waktu istirahat jadi berkurang. Acara ini pun ditutup dengan tajammu’, makan bareng ala PMDG.

Paginya tulisan-tulisan kami bisa langsung dinikmati oleh seluruh santri penghuni kampung damai.

Nah, hari Jum’at adalah hari spesial buat saya karena tulisan-tulisan saya dapat terbit dan dibaca oleh ribuan santri PMDG.

Hari-hari ini, pengalaman saya yang satu ini berkelebat dalam benak saya. Saya sangat rindu menghabiskan hari Jum’at bersama teman-teman di Gontor. Rindu nonton film bahasa Arab-Inggris, nyanyi-nyanyi, lari pagi sambil melihat-lihat perempuan-permpuan PO yang anggun (wah yang ini jangan ditiru, he), bersih-bersih dan yang lainnya. Namun, yang paling saya rindukan adalah begadang malam Jum’at untuk menghasilkan karya dan paginya dibaca oleh ribuan santri se Darussalam.

Saya ulangi.

begadang malam Jum’at untuk menghasilkan karya dan paginya dibaca oleh ribuan santri se Darussalam.

Sungguh saya sangat rindu.

Untuk mengobati kerinduan ini akhirnya saya memutuskan untuk menerbitkan weblog ini, #fridaynightnotes. Ketika anda membaca tulisan-tulisan saya di FNN di Jum’at Pagi, berarti saya telah begadang di Malam Jum’atnya ditemani laptop dan cemilan-cemilan. Yah gak apa-apa lah tidak ada teman yang membantu ngelay-out, ngedit dan nyiapin makanan untuk tajammu’. Yang penting kan karyanya. Tulisannya.

Meskipun namanya Friday night notes, bukan berarti tulisan-tulisannya dibuat malam Jum’at. Bisa jadi hari Senin, Selasa atau hari lainnya. Namun, penerbitannya di weblog saya usahakan hari Jum’at Malam (yah kalau ngaret dikit gak apa-apa lah, dulu juga kadang kita ngaret).

Dan kutipan saya di atas saya rubah:

begadang malam Jum’at untuk menghasilkan karya dan paginya dibaca oleh ribuan santri se Darussalam ribuan orang se-jagad raya, hehe.

Baiklah, selamat menikmati.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 7, 2011 in Prolog

 

Education should be Expensive, but…

M. Syahrul Zaky Romadloni,
Siliwangi University, Indonesia

Why is education so important for our sustainable life? Many scholars on educational philosophy have the prolonged discussions on it even though they have different notions on how it should be carried out. They all agreed that mankind should have the access on education in somehow it forms, unless, they couldn’t develop and maintain their great civilization. All what we’re watching now from complicated development of sciences and technologies are the fruit of what is so-called sustainable education.

Everybody knows that one of the secrets of Japanese advancement nowadays is their effort on making education the first priority of government’s concern. The story of Japanese emperor’s question that asked the amount of nation’s teachers when 1945-Hiroshima-Bombing had been already well-known as the point of the emergence of Japanese’s resurrection. Teachers, in this case, become the pioneers of Japanese’s resurrection after a deadly bombing which destroyed all angles of Japanese’s life.

Well, I won’t talk about the importance of education as it has been discussed by most scholars. Here, I’d like to tell you how the education in our country should be carried out if we concern that education is a key to the advancement of our country. As a preceding statement I’d like to describe you the portrait of our recent educational practice.

I’ve written in my previous post that our recent educational process has been industrialized. The industrialization of education is exactly influenced by the western education which tries to put education hand in hand with industry. The schools are the producers while the students are the consumers. The earlier should give the best service, for the latter pay for that. The more the latter pay, the better they will get. The theory of business, in this case, is obviously implemented in our educational process.

This circumstance, therefore, grows the amount of high-cost schools which give a high quality of educational process for their students. In many cases, parents should provide million rupiahs per semester for their children in a ‘qualified’ elementary school. In charge of that, the children will get a qualified experience of learning provided with complete facilities and excellent teachers. Furthermore, the schools guarantee that the education they give will bring students to get better life and education.

Through this post, I don’t mean to blame the parents who school their lovely children in this kind of schools, for it’s their right to assure that their children will get qualified education. I could accept the fact that most parents want their children keep the prestigious tradition of the family by schooling them in excellent schools which guarantee them to get better future. Furthermore, I don’t intend to criticize the qualified educational process given by these prestigious schools, for the quality of education should be primarily concerned by all educational stakeholders. The qualified education will certainly produce excellent students which contribute positively to the advancement of our nation.

What is being my concern is that the emergence of these schools bears other serious problems concerning on the equality of education. These schools don’t give any chances to the poor of getting as same education as the rich. The poor must be satisfied with the low service of education which won’t guarantee their better future. As soon as this circumstance goes on, the status-quo will exist in which the poor will remain in their poverty, while the rich will keep enjoying their prestige as the high class in society. In this case, the Darwin’s Concept of Evolution plays its role; the strong will survive, while the weak should die.

***

I agree with the statement that education should be expensive, for it needs much money to fund all programs concerning on its assured quality. The high-cost education will provide students with a high experience of joyful learning and encourage them to maximize their potencies as high as possible. The survey shows that students living in big cities are smarter than those who live in suburbs, for the former get better education than the latter.

On the contrary, the low-cost education will certainly impact its quality that it won’t guarantee our youth’s better future, for they get low-service education. The uncomfortable classrooms, unqualified teachers and limited schools’ equipment which have been our national problems for a long time make the graduate of our schools uncompetitive in global competition.

To avoid the inequality of education, that high-cost education shouldn’t be wholly burdened to students as the customers of educational services as practiced in our recent educational praxis. As mentioned before, the poor who cannot afford to pay such large salaries won’t have any further access to it. On the contrary, the rich have a wide chance of having these qualified educational experiences. Finally, it will cause the status-quo of the latter in our society.

Instead of burdening students with all educational costs, the government should provide a high number of subsidies that enable to cover them. In a deeper sense, government should provide the free access of qualified education for all children of the nation. Thus, educational sector must have a high bargaining position in determining our national budget. Twenty percents of national budget should be at least prepared by government to fund all educational practices every year.

The private sectors, in this case, should take part in providing excellent educational practices which are widely open for all children of the nation. They can use as many ways as possible. One of them can be seen in how Al-Azhar University in Cairo gives the free education for its students by expanding a great number of waqf in all parts of the country. Or we can imitate how Anis Baswedan from Paramadina University works hand in hand with some conglomerates to provide a great number of scholarships for hundred students every year. In this way, private sectors can take part actively in giving free qualified education for our children.

What is being my concern is that a few people are conscious enough that education should be open for all children. Recently, the issue of the industrialization of educational practices has been discussed by most of educational stakeholders. They argue that educational institutions should imitate the success of how business corporations organize their managements. Unfortunately, it makes our education too far to reach for most poor people in our country.

Let’s make our education accessible to all children of the nation.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 7, 2011 in Opini

 

Pasangan Unik dan Sensasional

Oleh: Syahruzzaky Romadloni
Blogger Indonesia

Unik dan sensasional adalah salah satu tips menjadi pasangan membanggakan. Unik dalam artian tidak biasa, beda dengan yang lain dan memiliki kekhasan yang membuat kita kontras dengan lingkungan di sekitar. Sensasional dalam artian menarik, penuh energi, kreativitas dan dinamis. Selalu saja ada semangat dan ide baru dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Tidak flat. Tentunya kedua hal tersebut senantiasa berada dalam koridor positif dan sesuai dengan norma agama dan budaya yang berlaku.

Tips ini satu paket dalam artian kalau ada satu pasangan memutuskan untuk menjadi pasangan yang unik, maka otomatis mereka harus juga menjadi pasangan sensasional. Hal ini akan melahirkan satu keseimbangan. Menjadi pasangan unik membutuhkan hal-hal yang sensasional, jika tidak, keunikan pasangan ini akan memudar dengan sendirinya. Atau sebaliknya, pasangan sensasional membutuhkan keunikan pula sebagai pelatuk semangat dan gairah menjalani kehidupan.

Menjadi pasangan unik akan membawa suasana keluarga bergairah karena ingin senantiasa ‘luar biasa’ dalam menjalani kehidupan. Keluarbiasaan ini tercermin dari sikap dan perilaku setiap anggota keluarga dimulai dari Ayah, Ibu, anak atau pembantu. Tidak ada yang biasa, baik dari cara mereka berintekrasi di rumah, bersosialisasi di masyarakat dan bergaul di tempat kerja atau sekolah. Masyarakat akan melihat keluarga ini extraordinary karena konsistensinya dalam menjalani kehidupan yang tidak biasa.

Lalu bagaimanakah berumah tangga yang tidak biasa itu? Banyak hal yang bisa dilakukan dan tidak ada batasan yang pasti karena relatif dan menyesuaikan diri dengan situasi kontekstual. Misalnya, ketika masyarakat yang tinggal di sekitar rumah rata-rata lulusan S1 dalam negeri, maka pasangan tidak biasa ini adalah lulusan perguruan tinggi luar negeri yang bergengsi. Atau, ketika masyarakat sekitar budaya sosialnya rendah, maka keluarga unik memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan mengajak lingkungan sekitarnya untuk meningkatkan solidaritas sosial antar sesama. Begitu dan seterusnya ketidabiasaan ini terbangun dari konsistensi keluarga ini untuk tetap memilih kehidupan yang tidak biasa.

Pasangan yang unik adalah pasangan yang berani beda dengan yang lainnya. Mereka memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh pasangan lain di sekitarnya. Sekali lagi, ini harus tetap dalam batasan positif dan sesuai dengan norma agama dan kesepakatan sosial yang berlaku. Dan sekali lagi, implementasinya bisa berbeda-beda sesuai dengan kondisi kontekstual.

Saya ambil contoh. Ada beberapa orang yang menahbiskan pasangan mereka sebagai crazy couple. Coba deh anda kunjungi pasangan yang mengelola suamigila.com dan isteribawel.com. Mereka telah berkomitmen untuk menjadi pasangan yang berani beda dengan lingkungan sekitarnya. Bagaimana tidak, mereka menamakan mereka sebagai pasangan gila, lain dari yang lain. Tentunya gila dalam hal positif. Mereka adalah sama-sama penulis produktif, couple writer. Buku-buku mereka best-seller. Mereka pun seringkali melakukan perjalanan mengelilingi dunia, couple traveller, dan menuliskan pengalaman mereka dalam satu buku yang ditulis bareng. Unik kan?

Keunikan yang melekat pada satu pasangan dengan sendirinya akan melahirkan image sensasional. Masyarakat akan merasa tertarik untuk mengetahui lebih dalam seluk beluk pasangan sensasional tersebut dan menjadikan contoh bagi kehidupan mereka.

Di Lampung Tengah ada satu pasangan yang berhasil menarik pemerintah untuk menyematkan predikat Keluarga Sakinah Teladan Nasional 2010. Mereka adalah HM Fathana Amrullah dan Siti Zubaidah. Mereka adalah keluarga sederhana, namun di balik kesederhanaan itu mereka melakukan hal-hal yang luar biasa. Rumah boleh hanya terbuat dari tumpukan papan, tapi mereka dengan kegigihan dan kerja keras mampu menyekolahkan anak-anak mereka sampai jenjang perguruan tinggi. Bahkan, mereka mampu mendirikan beberapa sekolah, masjid, rumah jompo dan rumah sakit di masyarakat sekitar. Uniknya, mereka tidak mengambil keuntungan dari apa yang mereka kerjakan. Seluruhnya diserahkan sebagai amalan ikhlas karena Allah Ta’ala. Apakah ini tidak sensasional?

Nah, jelas bahwa menjadi pasangan unik dan sensasional adalah satu pekerjaan mulia dan akan senantiasa membuat suasana keluarga hangat dan membanggakan. Anda tertarik untuk mencobanya?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 7, 2011 in Blogcemara