RSS

Arsip Kategori: Prolog

#FridayNightNotes (2)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Selamat pagi sahabat. Dalam #FridayNightNote edisi kali ini izinkan saya untuk masih memberikan kontribusi ide dan pemikiran terhadap praksis-praksis pendidikan di Indonesia yang masih dirundung berbagai masalah. Memang, permasalahan pendidikan tidak akan terselesaikan dan akan tetap ada, tapi setidaknya hal itu tidak menempatkan posisi pendidikan kita pada jurang hina dina yang membonsaikan kreativitas para peserta didik. Hendaknya, pendidikan tidak menjadikan manusia Indonesia kerdil dan tercerabut dari fitrahnya sebagai hamba Tuhan.

Berbagai fenomena aneh terjadi dalam masyarakat kita baru-baru ini. Ada pemimpin yang tak mau lengser dari jabatannya meskipun rakyat telah menangis darah memintanya menghentikan kepemimpinanya yang korup dan menindas. Ada juga seorang leader yang tuli dan buta serta keras kepala untuk tetap menjabat sebagai pimpinan sebuah organisasi bola, padahal masyarakat memintanya untuk berhenti menjalankan organisasi tersebut. Ada juga seseorang dari sebuah institusi dakwah yang lupa akan janjinya untuk menyejahterakan rakyat dan malah bergelimang hawa nafsu ketika berada pada forum yang membahas kemaslahatan rakyat. Untungnya dia masih memiliki rasa malu untuk tetap melanjutkan amanah yang diembannya dari rakyat. Ada juga orang yang terperdaya oleh rayuan dunia dan berkoar-koar menjadi agennya untuk mengaburkan identitas-identitas kita yang telah kukuh dan begitu jelas.

Akhirnya, saya haturkan banyak terima kasih atas kunjungan anda ke weblog yang sederhana ini.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jum’at, 15 April 2011

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 15, 2011 in Prolog

 

#FridayNightNotes

Oleh: Syahruzzaky Romadloni
Alumni Gontor, 2006

Bagi kami, santri Pondok Modern Gontor, Jum’at adalah hari spesial. Di hari ini bertumpuklah semua rasa gembira di hati. Bagimana tidak, aktivitas padat belajar di kelas dan disiplin ketat di luar kelas selama 6 hari memang cukup membuat suasana hati penat. Apalagi seringkali hal tersebut dibumbui ketegasan para pengurus dan ustadz dalam menegakkan disiplin yang tak jarang membuat hati ini dongkol. Dan hal ini ini tidak akan ditemukan di hari Jum’at, hari pembebasan dari hal-hal yang cukup melelahkan tersebut.

Tentunya hari Jum’at bukanlah hari untuk berleha-leha dan istirahat total dari semua aktivitas. Kami memahami bahwa definisi istirahat menurut Pondok Modern Darussalam Gontor adalah tabaadulil a’mal, pergantian pekerjaan. Iya, kami tetap beraktivitas di hari Jum’at. Bedanya, kami dipersilahkan untuk memilih aktivitas apa yang disukai sesuai dengan minat dan bakat yang kami punya.

Hari Jum’at akan dimulai dengan suguhan menarik dari staf center for language improvement, Bagian Penggerak Bahasa. Biasanya, kakak-kakak yang pandai bercas-cis-cus ria dalam bahasa Arab dan Inggris ini menyetelkan film-film menarik berbahasa Arab dan Inggris sambil menyerap vocabulary dan expressions yang ada dalam film tersebut. Atau mereka mengadakan perlombaan-perlombaan kecil seperti komentator bola dalam bahasa Arab dan Inggris, membaca berita, mini-drama, latihan percakapan, sampai cerdas cermat. Atau juga mereka mengundang para ahli bahasa lulusan Al-Azhar, Manchester dan perguruan tinggi lainnya di luar negeri untuk memberikan language encouragement. Beneran gak boring deh! (haha, promosi, mentang-mentang dulu bagian penggerak bahasa :)

nonton film berbahasa Arab dan Inggris

Setelah puas mendapat suguhan dari Bagian Penggerak Bahasa saat nya time to show our creativity on singing songs. Yah, akan ada pertunjukan nyanyi-nyanyi antar asrama sebelum lari pagi dimulai. Bukan nyanyi-nyanyi lebay tentang jatuh cinta atau putus cinta, tapi lagu-lagu pematuk gelora, semangat dan kebanggaan terhadap rayon (asrama) masing-masing. Ketika itu kami berperang dengan rival kami dari asrama lain. Seberapa banyak dan rame lagu adalah penentu kemenangan perang tersebut. Nih saya kasih bocoran petikan sya’ir lagu yang yang merupakan plesetan dari salah satu judul dalam pelajaran mutholaah dengan memakai nada rap ini. Lagu ini biasanya oleh para muharrik (penggerak) asrama digunakan untuk memantik semangat teman-temannya:

“Kana muhammadun na’iman fi firosyihi, wa sa’atu ‘asyrun. Bakda kasfil hudhur’

Haha, ngaku deh kamu juga pernah menyanyikan lagu ini kan? :-p

Nah, puas nyanyi-nyayi, kini saatnya lari pagi. Lari pagi hari Jum’at di pondok kami itu plus-plus loh. Artinya banyak sekali embel-embelnya. Pertama, ya tadi jadi ajang ‘perlombaan’ nyanyi antar rayon yang dipimpin oleh muharrik maskan. Kedua, jalan-jalan lihat pemandangan pedesaan daerah Gontor yang asri nan indah di pagi hari. Ketiga, dan ini yang paling menyenangkan dan membuat hati berbunga-bunga, adalah dapat melihat beberapa perempuan ponorogo yang menunggangi sepeda mereka pergi ke sekolah masing-masing. Biasanya kami langsung menggoda mereka dengan nyanyian-nyanyian lebay. Haha, bagi kami itu adalah hiburan yang cukup menyenangkan, mengingat satu-satunya perempuan yang dapat kami lihat di dalam pondok adalah mboke’ nya dapur umum, haha.

Lari Pagi ++ di PMDG

Baiklah, setelah lari pagi waktunya membersihkan pondok dan kamar masing-masing. Bagi saya sendiri, ketika anak baru ada pengalaman yang mengesankan. Di saat teman-teman yang lain disuruh para mudabbir rayon untuk membersihkan asrama, saya dan beberapa teman mempunyai obyek bersih-bersih lain, yaitu Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat. Yah ketika itu saya menjadi asisten BKSM. Enaknya bersih-bersih di sana, kami tidak perlu disuruh oleh para pengurus rayon (yang terkadang dibentak-bentak juga) dan di akhir pekerjaan, biasanya ada sedikit cemilan yang diberikan oleh mboke’ BKSM. Alhamdulillah. Ketika anak lama pun, bersih-bersih hari Jum’at saya tidak di rayon karena menjadi asisten Perpustakaan Pondok Modern Darussalam Gontor.

BKSM. Sempat menjadi asisten di sana pas anak baru

Nah, setelah kegiatan bersih-bersih, pondok akan semakin rame. Biasanya hari Jum’at dijadikan ajang oleh beberapa organisasi ekskul untuk mengadakan acara spesial. Di depan Gedung Tunis, Itqan, organisasi majalah santri, mengadakan bazzar buku dan majalah Islam. Di depan cafetaria, Dams’ Family dan Armada berkolaborasi mengadakan konser musik dan teater. Bagian Penerangan gak mau kalah. Mereka mengadakan perlombaan membaca berita. Aklam dan Limit mempertunjukan kreativitas mereka malalui pameran kaligrafi dan lukisan mereka. Bagian Kebersihan pun gak kalah serunya. Mereka melakukan bazzar murah meriah baju bekas hasil raziaan mereka. Dan seterusnya.

Oh, ya bagi yang punya doku banyak (saya tidak termasuk loh) hari Jum’at bisa dijadikan ajang shopping di Ponorogo. Para santri memang diperbolehkan untuk pergi ke Ponorogo berbelanja keperluan-keperluan yang tidak ditemukan di Koperasi Pelajar. Haha, saya sendiri tidak punya pengalaman banyak berbelanja di Ponorogo karena jarang mempunyai uang lebih.

Lalu apa serunya hari Jum’at bagi saya pribadi?

Sebelumnya saya akan membawa anda pada main interest saya di PMDG.

Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di PMDG hati saya langsung tertambat ke tempat yang namanya perpustakaan. Yah, setelah keliling ke sana kemari dan nanya sana-sini akhirnya saya dapat menemukan ruang perpustakaan. Ketika itu tempatnya masih di Gedung Saudi 6 Lt. II. Sayangnya, ketika itu perpustakaannya lagi tutup, karena memang biasanya dibuka setelah proses KBM berjalan.

Lalu di asrama ada pengumuman perekrutan anggota Itqan, majalah santri. Karena minat saya adalah baca-tulis, saya langsung mendaftar ke ekskul ini. Nah, di sini lah saya menghabiskan sebagian besar waktu saya selama belajar di Gontor. Gedung Tunis Lt. II Kamar 3.

Gedung Tunis. Kantor Itqan di Lt. 2-nya

Ternyata, setelah masuk Itqan saya tidak bisa langsung menulis di majalah. Itqan mempunyai sistem kaderisasi berjenjang yang bertujuan untuk mematangkan tulisan-tulisan sebelum mereka terpilih menjadi staf redaksi majalah. Biasanya setiap jenjang kaderisasi memiliki mading masing-masing yang disimpan di galeri depan Gedung Tunis dan dibaca oleh hampir seluruh santri karena tempatnya persis di depan dengan Masjid Jami’.

Kembali ke hari Jum’at.

Hari Jum’at adalah hari dimana tulisan-tulisan kami diterbitkan di galeri dan dibaca oleh ribuan santri PMDG. Tentunya ini memerlukan proses sebelum akhirnya dipajang di galeri:

Malam Jum’atnya, selepas absen malam, kami anggota Itqan berkumpul di markas untuk pembagian tugas. Ada yang bertugas sebagai lay-outer plus designer. Ada juga yang mengetik tulisan-tulisan terkumpul. Ada editor yang memeriksa kelayakan tulisan-tulisan yang masuk. Nah, karena begadang tentunya capek ada juga seksi konsumtornya yang bertugas menyediakan makrunah (mie instant), qohwah (kopi) dan cemilan-cemilan lainnya. Kami pun mulai mengerjakan tugas masing-masing.

Kalaulah semua anggota lengkap pada datang dan bekerja sesuai job nya masing-masing biasanya mading sudah dapat diterbitkan sekitar pukul 1 dini hari. Dan kami bisa langsung pulang ke asrama untuk istirahat. Namun, bila teman-teman lain lagi pada sibuk, biasanya baru dini hari dapat dipajang, tentunya waktu istirahat jadi berkurang. Acara ini pun ditutup dengan tajammu’, makan bareng ala PMDG.

Paginya tulisan-tulisan kami bisa langsung dinikmati oleh seluruh santri penghuni kampung damai.

Nah, hari Jum’at adalah hari spesial buat saya karena tulisan-tulisan saya dapat terbit dan dibaca oleh ribuan santri PMDG.

Hari-hari ini, pengalaman saya yang satu ini berkelebat dalam benak saya. Saya sangat rindu menghabiskan hari Jum’at bersama teman-teman di Gontor. Rindu nonton film bahasa Arab-Inggris, nyanyi-nyanyi, lari pagi sambil melihat-lihat perempuan-permpuan PO yang anggun (wah yang ini jangan ditiru, he), bersih-bersih dan yang lainnya. Namun, yang paling saya rindukan adalah begadang malam Jum’at untuk menghasilkan karya dan paginya dibaca oleh ribuan santri se Darussalam.

Saya ulangi.

begadang malam Jum’at untuk menghasilkan karya dan paginya dibaca oleh ribuan santri se Darussalam.

Sungguh saya sangat rindu.

Untuk mengobati kerinduan ini akhirnya saya memutuskan untuk menerbitkan weblog ini, #fridaynightnotes. Ketika anda membaca tulisan-tulisan saya di FNN di Jum’at Pagi, berarti saya telah begadang di Malam Jum’atnya ditemani laptop dan cemilan-cemilan. Yah gak apa-apa lah tidak ada teman yang membantu ngelay-out, ngedit dan nyiapin makanan untuk tajammu’. Yang penting kan karyanya. Tulisannya.

Meskipun namanya Friday night notes, bukan berarti tulisan-tulisannya dibuat malam Jum’at. Bisa jadi hari Senin, Selasa atau hari lainnya. Namun, penerbitannya di weblog saya usahakan hari Jum’at Malam (yah kalau ngaret dikit gak apa-apa lah, dulu juga kadang kita ngaret).

Dan kutipan saya di atas saya rubah:

begadang malam Jum’at untuk menghasilkan karya dan paginya dibaca oleh ribuan santri se Darussalam ribuan orang se-jagad raya, hehe.

Baiklah, selamat menikmati.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 7, 2011 in Prolog

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.